Dalam pernyataan resminya, GoTo mengumumkan, operasional Gojek di Vietnam menyumbang kurang dari 0,5% dari keseluruhan nilai transaksi kotor (GTV) Grup GoTo di kuartal II-2024.
JAKARTA – Pengamat Ekonomi Digital dari Institute for Development and Economics and Finance (INDEF), Izzudin Al Farras, menilai aksi korporasi PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang memilih untuk keluar dari pasar Vietnam merupakan strategi keunggulan komparatif untuk fokus pada keunggulan yang sudah dimiliki.
* GOTO Tutup Bisnis di Vietnam, Bagaimana Pengaruhnya bagi Target Saham?
* Strategi dan Alasan GoTo di Balik Pemberhentian Operasional Gojek di Vietnam
* Muncul Transaksi Nego Saham GOTO, Nilainya Tembus Rp814 Miliar
GoTo, melalui Gojek, saat ini merupakan pemimpin pasar di Indonesia. Menurut Farras, Indonesia memiliki ruang pertumbuhan yang masih sangat besar di sektor ekonomi digital lainnya. Berbagai studi menunjukkan, Indonesia senantiasa menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar di kawasan. Bonus demografi dan potensi pertumbuhan ekonomi ke depan mendorong sejumlah korporasi global berlomba-lomba masuk ke Indonesia, tak terkecuali perusahaan teknologi.
“Artinya, aksi korporasi GoTo yang memilih untuk keluar dari pasar Vietnam merupakan strategi keunggulan komparatif yang umum digunakan oleh berbagai perusahaan untuk lebih fokus pada keunggulan yang sudah dimiliki di Indonesia,” kata Farras dalam keterangannya, Kamis (4/9).
Dari sisi pasar, Farras mengatakan, Indonesia jelas lebih menjanjikan dibandingkan Vietnam karena memiliki pangsa pasar yang jauh lebih besar. Potensi ke depan juga masih terbuka lebar karena masih banyak daerah di sub urban dan rural area yang belum tergarap oleh berbagai perusahaan teknologi.
https://ouo.io/RQU8Cl


Leave a comment